Tiga Bayang yang Membinasakan
Tiga Bayang yang Membinasakan
Ada cahaya yang redup di mata sang alim,
ketika ilmunya tak lagi jadi pelita,
melainkan bara yang membakar dirinya —
ilmu tanpa amal, kata tanpa makna.
Di singgasana tinggi, duduklah sang penguasa,
tangannya menimbang nasib manusia,
namun neraca hatinya condong ke zalim,
menindas dengan tinta dan pedang kebijakan.
Dan di lorong sepi, seorang miskin berbangga,
bukan karena harta, tapi angan semu,
ia sombong di tengah kehinaan dunia,
lupa bahwa tanah tempat pijaknya sama — debu.
Tiga bayang berjalan di bumi,
dengan langkah yang tampak gagah namun rapuh,
karena kesombongan, kezaliman, dan dosa tersembunyi
adalah jurang yang menganga di bawah kaki mereka.
Wahai jiwa, berhati-hatilah engkau,
bukan banyaknya ilmu, kuasa, atau cita yang menyelamatkan,
tetapi hati yang tunduk dan jiwa yang jujur
di hadapan Tuhan yang melihat segalanya.
Comments
Post a Comment