Sajak Sufi: Qunut di Atas Luka Gaza
Ya Allah…
Di sepertiga malam yang retak oleh ledakan,
kami angkat tangan yang gemetar—bukan karena takut kepada makhluk,
tapi karena rindu akan pertolongan-Mu.
Kami memohon pertolongan-Mu,
bukan karena kami kuat,
tapi karena kami tahu—tanpa-Mu, kami fana.
Kami mohon ampunan-Mu,
atas diam kami di tengah kezaliman,
atas hati kami yang belum sepenuhnya tunduk,
atas lidah kami yang belum sepenuhnya bergetar dalam nama-Mu.
Kami mohon petunjuk-Mu,
di jalan yang berdarah,
agar tapak kaki kami tak tergelincir di antara dusta dan dunia.
Kami beriman kepada-Mu,
dalam remuk, dalam perang, dalam doa yang tak bersuara.
Kami bertawakal kepada-Mu,
karena hanya Engkaulah Penjaga setiap ruh yang dicintai.
Kami memuji-Mu dengan segala kebaikan,
bahkan ketika bumi berguncang,
dan langit tertutup oleh asap kezaliman.
Puji kami tak berhenti—sebab cinta kami tak bersyarat.
Kami bersyukur kepada-Mu,
meski malam kami berselimut jerit.
Kami tidak kufur kepada-Mu,
meski dunia menutup mata atas darah yang suci.
Kami berlepas diri dari mereka yang mendurhakai-Mu.
Kami tidak satu barisan dengan penindas,
kami tidak sepikiran dengan pembunuh anak-anak tak berdosa.
Ya Allah…
Kepada-Mu kami menghamba,
kepada-Mu kami bersujud dan bergegas dalam amal.
Kami mendekat,
bukan hanya dalam dzikir lisan,
tapi dengan air mata dan kerja nyata.
Kami mengharap rahmat-Mu…
di setiap do’a yang dibisikkan dari tenda pengungsian,
di setiap peluru yang dibalas dengan sabar.
Kami takut siksa-Mu…
karena kami tahu:
Azab-Mu tak menimpa kecuali mereka yang ingkar.
Maka ya Allah…
Kuatkan saudara-saudara kami di Gaza,
jagalah darah mereka,
kencangkan nyali mereka,
teduhkan hati ibu-ibu mereka,
peluk anak-anak yang kehilangan ayahnya.
Ya Tuhan kami…
Hukum Zionis yang terkutuk—
mereka yang membunuh tanpa malu,
yang menjajah tanpa gentar.
Turunkan murka-Mu,
karena kami tak mampu menurunkannya sendiri.
Dukung agama-Mu,
agar Al-Qur’an tetap hidup dalam dada para syuhada.
Tegakkan kitab-Mu,
dan muliakan sunnah Nabi-Mu, Muhammad,
yang namanya kami sebut saat jantung kami gentar.
Ya Allah…
Di antara runtuhan bangunan,
doa kami masih terbang,
karena langit tidak pernah dibatasi pagar-pagar penjajah.
Comments
Post a Comment